IDUL FITRI (lebaran) selalu jadi hari spesial bagi
masyarakat Indonesia. Wajar saja, negara ini berpenduduk muslim terbesar dunia.
Pada momen itu kita jamak mendengar kata lebaran, ketupat, opor ayam, baju
baru, dan mudik. Ada yang memandang positif, banyak pula yang menilainya dari
kacamata negatif. Sesuatu yang wajar, sebuah keseimbangan namanya, ada yin
pasti ada yang.
Idul Fitri disebut-sebut sebagai hari kemenangan melawan
hawa nafsu selama satu bulan lewat puasa di Bulan Ramadhan. Meski yang
benar-benar tahu bagaimana proses berpuasa adalah masing-masing individu dengan
Tuhannya.
Namun banyak yang lengah dengan makna kemenangan ini. Lebaran
seharusnya jadi momen yang tepat untuk meng-upgrade cara beragama dan bertuhan,
justru malah jadi pintu gerbang kebebasan.
Bebas makan dan minum sepuasnya, bebas umbar nafsu. Jadilah
tingkat konsumsi meningkat sehingga harga kebutuhan sembako naik meroket.
Pasien klinik, puskesmas, dan rumah sakit meningkat. Kalau sudah seperti itu
apa yang salah?
Tapi biarlah, minimal masyarakat dapat menikmati momen kebahagiaan yang mungkin jarang dirasakan. Biarlah momen lebaran menjadi pelipur lara, menjadi pelarian sejenak, obat kekecewaan karena cinta kepada negara yang selalu bertepuk sebelah tangan.
Ada lagi yaitu baju baru. Banyak yang pro dan kontra dengan
budaya yang satu ini. Budaya yang mengharuskan baju baru saat lebaran tidak
menjadi masalah asal ada uang. Namun masalah kalau tidak ada uang, istilahnya
kaum proletar, kasta sudra.
Alih-alih menjadi hari kemenangan, momen lebaran
justru menjadi beban tambahan bagi mereka jika dipikir sangat. Sehingga muncul
anggapan kalau lebaran menjadi ajang pamer. Karena itu banyak yang menilai
lebaran tidak lagi dimaknai secara substansial.
Namun ada juga yang melihat budaya baju baru ini dengan
perspektif positif. Misalnya berputarnya roda perekonomian di tengah
masyarakat. Mereka beli baju baru juga tidak selamanya pamer, tapi karena ingin
tampil sebaik mungkin di hari yang suci.
Mereka tidak ingin sulitnya hidup yang
mereka alami terlihat oleh orang lain, demi menghormati hari raya umat muslim
itu. Karena Idul Fitri adalah hari penuh kebahagiaan, begitu pandangan
masyarakat kita.
Jika di momen lain ada hari Ibu, hari kasih sayang, hari penuh
cinta, di hari lebaran semua itu dapat kita rasakan. Benar-benar membahagiakan
bukan?
Satu lagi yang menjadi kebiasaan lebaran setiap tahunnya,
yaitu mudik. Sudah menjadi keharusan bagi masyarakat kita untuk berkumpul
bersama keluarga dan kerabat. Bahkan jumlah orang yang mudik menjadi salah satu
indikator utama ramai atau tidaknya lebaran.
Masyarakat yang bekerja di tanah
rantau mulai dari buruh pabrik, buruh bangunan, hingga direktur di perusahaan
besar berbondong-bondong tanpa dikomando, kembali ke tanah ibunda untuk melepas
kangen, sungkeman, nyadran, atau sekadar berlibur melepas penat dari hiruk
pikuk dunia kerja.
Budaya mudik ini juga tidak lepas dari kiritikan haters,
mulai dari penyebab meningkatnya kecelakaan, meningkatnya budaya konsumerisme
dan pamer kemewahan hingga dibela-bela berutang.
Apalagi kenangan buruk tahun
lalu masih membekas dalam ingatan, dimana ada belasan pemudik yang tewas dalam
jebakan macet di Brebes. Kisah yang tragis, niat hati pulang ke kampung
halaman, malah pulang ke Sang Pencipta untuk selama-lamanya. Lagi-lagi rakyat (red–
pemudik) yang disalahkan.
Budaya mudik juga dijadikan kambing hitam penyebab naiknya
biaya transportasi. Sekali lagi memang tidak salah, tapi tidak etis juga kalau
kita hanya melihat sisi negatifnya saja.
Emha Ainun Najib pernah menulis dalam
bukunya Sedang Tuhan pun Cemburu, bahwa orang beramai-ramai mudik itu sebenarnya
sedang setia pada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali
dengan asal-usulnya.
Mudik itu menandakan komitmen batin manusia terhadap
sangkan paran (red– asal dan tujuan) dirinya. Orang berusaha berikrar bahwa ia
berasal dari suatu akar kehidupan, seperti komunitas etnik, keluarga, sanak
famili, bapak-ibu, alam, semesta, yang berpangkal atau berujung pada Tuhan
melalui runtutan akar historisnya. Jika kita melihat makna mudik dari
perspektif Emha, bukankah terlihat begitu suci?
Berbagai budaya lebaran memang banyak menjadi pro dan
kontra, namun biarlah, itu bertanda hidupnya demokrasi di dalam masyarakat.
Terlepas dari itu, tidak ada salahnya mengikuti budaya lebaran, asalkan tidak
meninggalkan makna lebaran yang substansial.
Pasca lebaran sudah seharusnya ada
peningkatan kualitas hidup, baik secara lahiriah maupun batiniah. Lebaran tidak
hanya memakai baju baru, namun juga semangat baru untuk beribadah dan
menghadapi kehidupan di hari esok.
Budaya mudik sebisa mungkin tidak hanya
kembali ke kampung halaman, tapi juga kembali ke keadaan yang suci, seperti
saat baru dilahirkan. Seperti yang pernah dikatakan Emha Ainun Najib, bahwa
kembali kepada Tuhan Sang Maha Pencipta adalah mudik yang sejati.
Yogyakarta, 5 Juni 2016
Diterbitkan pertamakali di wartafeno.com.
sumber gambar: Pixabay
Komentar
Posting Komentar